Sabtu, 26 Maret 2011

Patogenesis Penyakit Defisiensi Gizi

                                                  Patogenesis Penyakit Defisiensi Gizi

Nutrition Epidemiologi                                                                                                                                     

            Pengertian secara umum tentang Patogenesis adalah perkembangan atau evolusi terjadinya penyakit dalam lingkungan tertentu, yang dalam tulisan  ini  adalah patogensis penyakit defisiensi gizi, merupakan bagian dari  masalah gizi,  ketidak seimbangan antara intake (makanan yang dimakan) dan kebutuhan gizi tubuh adalah masalah gizi. Defisiensi gizi terjadi jika zat-zat gizi yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi mengalami defisiensi atau kekurangan, bila ini terjadi secara bertahap sel, intrasel, jaringan, dan organ tubuh  akan mengalami kematian. Jika sebaliknya, terjadi kelebihan gizi, zat-zat gizi makanan yang dikonsumsi mengalami kelebihan maka secara bertahap pula akan mengalami proses toksisitas (over) dan selanjutnya secara bertahap  sel, intrasel, jaringan, dan organ tubuh  akan mengalami kematian (lihat gambar diatas). Ketidak seimbangan antara intake dan kebutuhan tubuh yaitu  ketidak seimbangan zat-zat gizi yang terdapat dalam makanan yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air dan serat yang diperlukan seseorang sehari yang dapat menimbulkan gejala kekurangan/kelebihan akan zat makanan tersebut. Ketidak kesimbangan ini selalu berada dalam suatu lingkungan tertentu, artinya lingkungan juga dapat mempengaruhi ketidak seimbangan  antara intake dan kebutuhan gizi tubuh. Misalnya  lingkungan dimana terjadi gagal panen padi, disini tentunya ketersediaan pangan akan berkurang sampai  ketingkat konsumsi dan akhirnya akan terjadi kekurangan gizi.
Secara keseluruhan patogenesis penyakit defisiensi gizi adalah perkembangan  proses interaksi antara seseorang, dengan penyebab defisiensi gizi (zat-zat gizi makanan yaitu KH, protein, Lemak, vitamin, mineral dan air)  serta dengan  lingkungan dimana seseorang dan zat-zat gizi berada. Proses ini akan mengakibatkan sel, intrasel, jaringan, dan organ tubuh  secara bertahap akan mengalami gangguan dan dapat berakhir dengan kematian

Konsep Alamiah Terjadinya Masalah Gizi

(Patogenesis Penyakit Defisiensi Gizi)

Pada gambar di bawah ini yaitu gambar riwayat alamiah terjadinya masalah gizi (penyakit defisiensi gizi), yang telah dibuat oleh ahli epidemiologi gizi, gambar ini dapat menunjukkan perkembangan patogenesis penyakit defisiensi gizi.
Riwayat Alamia defisiensi gizi
              Riwayat alamiah terjadinya masalah gizi (defisiensi gizi), dimulai dari tahap prepatogenesis yaitu proses interaksi antara penjamu (host=manusia), dengan penyebab (agent=zat-zat gizi) serta lingkungan (environment). Pada tahap ini terjadi keseimbangan antara ketiga komponen yaitu tubuh manusia, zat gizi dan lingkungan dimana manusia dan zat-zat gizi makanan berada (konsep : John Gordon). Ada 4 kemungkinan  terjadinya patogenesis penyakit defisiensi gizi. Pertama : makanan yang dikonsumsi kurang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.  Kedua:  Peningkatan kepekaan host terhadap kebutuhan gizi mis : kebutuhan yang meningkat karena sakit. Ketiga: Pergeseran lingkungan yang memungkinkan kekurangan pangan, misalnya misalnya gagal panen. Keempat: Perubahan lingkungan yang mengubah meningkatkan kerentanan host mis : kepadatan penduduk di daerah kumuh
Catatan : HOST (pejamu) : Manusia atau makhluk  hidup lainnya yang menjadi tempat proses alamiah perkembangan penyakit defisiensi gizi. AGENT (penyebab): Zat-zat gizi  yang terdapat dalam makanan yang dapat menyebabkan suatu penyakit defisiensi gizi. ENVIRONMENT (lingkungan): Semua faktor luar dari individu (manusia)

                    Bila salah satu kemungkinan terjadinya patogensis penyakit defisiensi gizi tersebut diatas, maka tahap pertama yang terjadi adalah “simpanan berkurang” yaitu zat-zat gizi dalam tubuh terutama simpanan dalam bentuk lemak termasuk unsur-unsur biokatalisnya akan menggantikan kebutuhan energi  dari Karbohidart  yang kurang, bila terus terjadi maka “Simpanan Habis” yaitu titik kritis, tubuh akan menyesuaikan dua kemungkinan  yaitu menunggu asupan gizi yang memadai atau menggunakan protein tubuh untuk keperluan energi.  Bila menggunakan protein tubuh maka “perubahan faal dan metabolik” akan terjadi. Pada tahap awal akan terlihat seseorang “ Tidak Sakit dan Tidak Sehat” sebagai batas klinis terjadinya penyakit defisiensi gizi, bukan saja terjadi pada zat gizi penghasil energi tetapi juga  vitamin mineral dan  air termasuk serat.
Prinsipnya terjadinya patogenesis penyakit defisiensi gizi, seperti terlihat pada gambar prinsip monitoring gizi di bawah ini
Monitoring Gizi
          Zat gizi dipergunakan oleh sel tubuh untuk dipergunakan berbebagai aktifitas, bila zat gizi kurang maka sel tubuh akan mengambil cadangan zat gizi (depot), bila zat gizi yang dikonsumsi berlebihan maka akan disimpan dalam tubuh.  Bila depot simpanan habis dan konsumsi zat gizi kurang maka akan terjadi proses biokimia untuk mengubah unsur-unsur  pengaangun strutuk tubuh, ini artinya telah terjadi  gangguan biokimia tubuh misalnya saja kadar Hb dan serum yang turun. Bila terus berlanjut maka terjadi gangguan fungsi sel, jaringan dan organ tubuh. Bila tidak segera diatasi dengan konsumsi gizi yang adekuat maka secara anatomi  sel-sel, jaringan dan organ tubuh akan terlihat mengalami kerusakan misalnya saja pada penyakit defisiensi gizi kwashirkor dan marasmus. Gangguan anatomi dengan kerusakan jaringan yang parah  dapat berakhir dengan kematian.
Sebagai pembanding proses terjadinya patogenesis penyakit defisiensi gizi, dibawah ini diliperlihatkan bagan riwayat alamiah terjadi penyakit.
Bagan Alamiah terjadi penyakit
           Pada masa prepatogenesis bibit penyakit belum mamasuki penjamu, namun demikian telah ada interaksi antara penjamu, bibit penjakit dan lingkungan, jika penjamu tidak dalam keadaan baik, maka kondisi kesehatan menurun sehinga ada kemungkinan bibit penyakit masuk kedalam tubuh.
Bila bibit penyakit telah masuk dalam tubuh, maka tahapan patogenesis  dengan gejala yang terlihat dan gejala yang tidak terlihat (horizon klinis). Dimulai  dengan masa inkubasi yaitu mulai masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh dan timbulnya gejala atau tanda sakit. Bila sudah muncul gejala maka masa penyakit dini yaitu mulai munculnya gejala penyakit, dengan sifat penyakit masih ringan. Selanjutnya bila tidak segera diatasi maka masa penyakit lanjut akan muncul yaitu penderita tidak dapat melakukan aktivitas, dan memerlukan perawatan. Dan yang terakhir adalah masa penyakit berakhir yaitu dapat sembuh sempurna atau sembuh dengan cacat, dapat juga Carrier, Kronis dan meninggal dunia

Penerapan patogenesis Penyakit Defisiensi Gizi


           Penerapan patogenesis penyakit defisiensi gizi dalam upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan masalah gizi akan lebih mudah lagi difahami jika diterapkan dalam konsep “pohon masalah” yang dapat memperlihatkan penyebab langsung, tidak langsung, penyebab utama dan akar masalah. Seperti diperlihatkan dibawah ini ( Konsep Masalah Gizi menurut Unicef). Masalah gizi dalam tahapan penyebab langsung disebabkan oleh  konsumsi zat gizi  (yang rendah), pada pendekatan patogenesis dinyatakan sebagai Agent dan adanya penyakit infeksi dinyatakan sebagai host. Kedua penyebab langsung ini juga saling berinteraksi memperparah terjadinya masalah gizi.
Pohon masalah gizi


           Dengan di diketahui penyebab langsung. Maka selanjutnya Penyebab tidak langsung, penyebab utama dan akar masalah akan dengan mudah dijabarkan dalam upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan masalah gizi.
Mempelajari konsep patogenesis (penyakit defisiensi gizi), sekaligus juga akan akan terurai upaya-upaya pencegahan sesuai dengan tahapan patogenesis yang terjadi. Leavell and Clark 1958,  yang telah menjabarkan lima tahapan pencegahan berdasarkan proses alamiah terjadi penyakit yang bisa juga diterapkan dalam upaya pencegahan penyakit defisiensi gizi, seperti yang diperlihatkan pada gambar Five Level of Prevention.
Lima tingkatan (tahapan) pencegahan itu adalah Pertama; Promosi Kesehatan (Health Promotion), penyusunan Standar Kebutuhan Gizi yang di Anjurkan, atau pedoman penerapan gizi seimbang – yang dulu lebih dikenal dengan 4 sehat 5 sempurna—  merupakan bagian dari promosi kesehatan. Kedua ; Perlindungan Khusus (specific Protektion) , pemberian zat gizi tertentu  misalnya saja Pemberian vitamin A pada anak balita dua kali dalam setahun untuk melindungi anak dari kebutahan, merupakan salah satu upaya  dalam tahapan perlindungan khusus ini.  Tahap pertama dan Kedua ini pencegahan yang berada pada periode prepatogenesis.
Pencegahan yang berada pada periode patogenesis yaitu tahapan atau tingkat ke Ketiga; Diagnosa Dini dan Pengobatan yang tepat (Early Diagnosis and Prompt Treatment), sekrening survei berat badan dibawah garis merah pada KMS balita untuk penentukan anak balita yang benar-benar menderita gizi kurang dan anak balita yang benar-benar tidak menderita gizi kurang adalah salah satu contoh dari tahapan ini. Kempat; Mengurangi Kelemahan (Disability Limitation). Pemberian diet  sebagai bagian dari proses penyembuhan penyakit merupakan bagian dari tahapan ini. Dan tahapan yang terakhir adalah Tingkatan Kelima; Rehabilitasi, Pemberian makanan yang disesuaikan dengan keadaan pasien merupakan bagian dari tahapan ini.

Leavell and Clark juga mengelompokan lima tingkatan pencegahan dalam tiga kelompok pencegahan promosi kesehatan dan perlindungan khusus sebagai pencegahan tingkat pertama (primer), diagnosa dini dan pengobatan yang tepat sebagai pencegahan  tingkat kedua (sekunder), dan pengurangi kecatatan dan rehabilitasi  sebagai pencegahan  tingkat tiga (tertiary).

Kesimpulan

          Patogenesis Penyakit Defisiensi Gizi adalah perkembangan atau tahapan  terjadinya masalah gizi  baik dalam bentuk defisiensi gizi maupun over  gizi. Dengan  menggunakan konsep alamiah terjadinya penyakit,  kemudian diterapkan dalam konsep alamiah terjadinya masalah gizi, khususnya yang berhubungan dengan defisiensi gizi, maka patogenesis Riwayat Alamiah Terjadinya Penyakit Defisiensi Gizi dapat terpetakan, dan  merupakan pintu masuk untuk lebih memahami secara mendalam tentang zat-zat gizi yang mengalami defisiensi. Penerapannya dapat menggunakan konsep “pohon masalah” yang dapat memperlihatkan penyebab langsung, tidak langsung, penyebab utama dan akar masalah.  Disamping itu juga upaya pencegahan dapat dilakukan dengan lima tahapan pencegahan berdasarkan proses alamiah terjadi penyakit yang bisa juga diterapkan dalam upaya pencegahan penyakit defisiensi gizi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar